Jumat, 19 Juni 2015

Ketika Berbicara Perbedaan



Tuhan, bolehkah aku membeli waktu mereka 1 jam saja??? Hatiku mulai berceloteh di perjalanan pulang sekolah..
Lelucon ! Pikirku, aku ini bukan pengemis waktu... hahahaha mereka sibuk dengan dunianya masing-masing. Dan aku juga bisa lebih sibuk dari mereka 'kan?

Lalu aku pun mulai membelokan langkah kakiku untuk pergi ke taman sebelum pulang ke rumah.
Tiba disana,aku sedikit terkejut...
Aku pertama kalinya melihat sosok laki-laki yang terkenal tegas di sekolah sedang tersedu dengan air mata yang menganak sungai di pipinya. Terisak disebuah bangku taman tanpa mempedulikan keadaan sekitarnya. Tidak peduli dengan gerimis yang mulai deras. Ia hanya menangis, menangis menatap nanar bunga yang sedang bermekar indah di hadapannya...

Ada rasa penasaran yang menggebu dihatiku dan memaksa diri ini untuk membayar rasa penasaran itu. Sebuah rasa yang jarang sekali aku rasakan.. Aku mulai menggerakan kaki ini untuk mengikutinya ketika ia berjalan perlahan meninggalkan taman itu.

Rupanya dia mulai curiga aku mengikutinya.. dia menoleh ke arahku. "Kirana? Sedang apa kamu disini? " tanyanya dengan nada serius.
"Aku..aku hanya ingin mengambil bunga ini untuk ibuku, hari ini dia ulang tahun" ucapku dengan sedikit konyol memetik bunga-bunga ditaman yg telah basah terkena air hujan.

Dengan mata sembab..dia menatapku penuh kesunyian.. dia mulai duduk kembali di ayunan dekat taman. "Aku rasa dia butuh teman" ucapku dalam hati.. dengan rasa malu aku mulai memberanikan diri duduk didekatnya.

Walau hatiku belum terlalu jauh untuk mengerti, namun hasrat ini menuntut untuk terus bisa melihat wajahnya, menarik dirinya dalam keterpurukan yang dalam. Yang aku lakukan hanyalah mendengarkan semua cerita pahitnya, memberikan masukan-masukan disaat yang tepat. Membumbuinya dengan sedikit candaan untuk memancing tawanya atau hanya sekedar senyumnya yang lama tak terlihat.

Disaat itu aku sadar, aku hanyalah seorang pengagum yang ditakdirkan Tuhan untuk mengenal dirinya di suatu senja yang kelabu. Sebetulnya aku membenci gagasan itu, membenci kenyataan mengagumi dalam diam hahahaha apalah-apalah pentingnya rasa ini.

Dia tersenyum padaku.. berterimakasih dan meminta aku untuk segera pulang ke rumah dengan diantarnya. Belum sempat aku menolaknya,dia memegang tanganku lalu membukakan pintu mobilnya, yang seakan memaksaku untuk segera mengakhiri curhatan yang sangat langka aku dengarkan dari seseorang yang tegar, yang baru saja aku kagumi...

Mulai dari situ,kita lebih dekat..dia mengisi hari-hariku penuh warna. Cinta kasih pun telah ia berikan dengan penuh kenyamanan.. Namun seiring berjalannya waktu,kenyataan berkata lain..satu hal yang menyadarkan ego ku yaitu "perbedaan"

Hari berlalu begitu cepat, kalender hitam putih pun menunjukan bulan tiga, yaitu bulan maret. Seperti aku yang bersaing ketat menuju dewasa, waktu mengikis usiaku...entah ada dibatas mana, sepenggala atau bahkan mendekati senja.

Album usam itu masih tergeletak diatas meja belajarku, seperti dulu sosok yang aku kagumi menatanya begitu sederhana.. secarik foto-foto kebersamaan yang mungkin menjadi kenangan terakhir.. karena aku tahu, aku dan dia tak akan pernah bersama.

Aku membohongi diriku sendiri, membakar hidup-hidup perasaan itu. Mengenyahkan secara paksa sebuah harapan yang telah tumbuh dan berkembang subur jauh di dalam hatiku. Aku sulit mengakuinya, bahkan saat aku ingin mempercayai perasaan cinta itu bisa ku rubah menjadi benci, justru semakin gencar aku sulit melupakannya.

Tapi disisi lain aku sadar. Kekuatan cinta satu sama lain pun tak akan ada artinya jika telah berbicara perbedaan "keyakinan". Semua telah Tuhan atur, mungkin kita sedang diuji bahwa cinta tak harus memiliki.

Bahkan dari situ aku mulai belajar ikhlas menerima,bahwa Tuhan memiliki rencana yang lebih indah daripada rencana umatnya, Tuhan selalu menggantikan dengan yang lebih indah dalam segala hal. Dan hal itu menyadarkanku bahwa manusia harus lebih mencintai PenciptaNya daripada ciptaanNya!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar