
Aku adalah pencinta kata. Terlalu lama aku meninggalkan dunia kata dalam imaji dan tinta.
Dan ternyata itu membuatku jauh dari aku apa adanya.
Karena ternyata... menulis itu aku, sejauh-jauhnya aku berlari.
Menulis itu aku, selucu-lucunya aku sembunyi.
Menulis itu aku, setajam-tajamnya aku dimaki.
Menulis itu aku, seaneh-anehnya aku menari.
Dan menulis itu aku, sebaik-baiknya aku menjadi.
Kata orang, jatuh cinta ada banyak bentuknya.
Ada cinta monyet yang dialami remaja puber.
Cinta bertepuk sebelah tangan yang bikin banyak orang baper.
Cinta putih yang sering dinyanyikan sambil curcol.
Cinta buta yang bikin orang cemburu tidak logis sama teman sendiri.
Sampai cinta mati yang bisa bikin candi kelar dalam sehari.
Menurutmu, apa itu cinta?
Mungkin beragam jawaban akan kamu dapati.
Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi, atau malah tentang bekas luka dalam hati-hati yang berani mencintai.
Kuceritakan sedikit kepadamu perihal luka-luka yang mudah tersembuhkan. Namun, kamu akan jumpai pula luka yang selamanya terpatri. Menjadi pengingat bahwa dalam mencintai juga ada melukai.
Untuk urusan itu, Bayu sang pencari cinta sudah melewati banyak hal. Hatinya pernah berlabuh karena sebuah senyum. Senyum penuh arti dari Adel, seorang wanita yang selalu menutup diri, selalu bijak didepan tapi picik di belakang dengan sifat yang masih kekanak-kanakan.
Mengungkapkan dua naluri dasar manusia, cinta dan benci, yang hidup berdampingan seperti dua sisi mata uang. Ketika cinta kilat yg lahir hanya dari daya tarik fisik menjelma menjadi kekecewaan, cinta pun bermetamorfosis menjadi kebencian.
Lalu hati Bayu akhirnya patah oleh keadaan yang salah. Perasaannya membumbung tinggi lewat pandangan mata, kemudian terhempas saat tujuan tak lagi sama.
Yaaaa,,, sejak saat itu Bayu sadar, bahwa perempuan itu tak secantik yang dia lihat dari luar, gadis lugu yang baik, manis, sopan, namun menyimpan sifat yang picik dilubuk hatinya.
Setelah Adel kehilangan Bayu, akhirnya dia merasa sesal, terlambat dia menyadari bahwa dia telah benar-benar mencintai Bayu, bahkan setelah ditinggalkan dia berpikir bahwa hidup terlalu kejam, dia terpuruk karena cinta, berharap tanpa kepastian akan menjadi apa kisahnya ke depan.
Hingga dia selalu berontak pada lingkungan sekitar untuk melampiaskan kekesalannya, bersikap cemburu tidak logis pada siapapun yang mendekati Bayu. Meskipun disisi lain, dia menyadari bahwa dia bukan siapa-siapa bayu lagi.
Dalam kesehariannya dia cenderung lebih pemarah, krisis kepercayaan dan banyak tingkah.
Padahal, tanpa sadar banyak hal yang bisa menjatuhkannya, tapi satu-satunya hal yang benar-benar menjatuhkannya adalah sikapnya sendiri.
Waktu demi waktu telah terlewati, namun Adel tetap saja tidak bisa move on dari seorang Bayu.
Beda hal nya dengan Bayu yang tak pernah menyangka akan bertemu Fiona , teman masa kecilnya, pada saat kuliah. Gadis itu telah tumbuh menjadi perempuan mempesona, humoris, apa adanya, yang membuatnya jatuh cinta. Karena kenangan, mereka bertemu kembali dan dekat. Tetapi, kedekatan mereka tidaklah seperti yang diharapkan Bayu. Kehadiran lelaki lain, yang tak pernah memiliki masa lalu Fiona. Seperti menggantung hubungan mereka. Namun, Bayu tak berputus asa, dia mengajak Fiona menyusuri pantai kenangan mereka, berharap pintu hati Fiona terbuka untuknya.
Namun, Fiona memiliki sikap yang tegas. Ia telah menganggap Bayu sebagai sahabat bahkan saudaranya sendiri, meskipun beberapa kali Bayu mengungkapkan perasaannya. Tapi, tetap saja tidak mengubah keputusan Fiona untuk tidak merusak hubungan persahabatannya dengan Bayu.
Apalagi Fiona sekarang telah menjalin hubungan serius dengan seorang lelaki yang telah berhasil mengambil sepenuh hatinya, yg selalu dia banggakan didepan orang-orang terdekatnya.
Leon.. sosok lelaki yang selalu hadir disetiap langkah Fiona, sosok kekasih sekaligus sahabat, kakak, adik, dan kadang menjadi sosok ayah dengan segala perlindungan dan kasih sayangnya.
Leon memang pandai menempatkan diri sebagai kekasih Fiona agar tidak ada kejenuhan dalam menjalani kisah cintanya, kekasih yang setia, romantis, dewasa, humoris. Yang bisa membuat iri banyak orang yang melihatnya.
Bayu melihat Leon menuliskan sesuatu untuk Fiona di hamparan pasir pantai sebelum ombak menghapusnya. Lautan tentu mengerti takdir atas kisah mereka berdua, karena ia menyimpan rahasia Tuhan.
Hal itu sedikit menyentuh hati Bayu, menyadarkan Bayu bahwa Leon memang pantas bersanding dengan Fiona, Leon & Fiona telah saling membahagiakan satu sama lain. "Mungkin jodoh memang cerminan dari sikap pribadi masing-masing, aku cukup mengagumi Fiona dari jauh, menjaganya sebagai sahabat, dan aku akan belajar darinya, dari kisahnya!" Ucap Bayu berceloteh dalam hati.
*Brakkkkkk suara pecahan gelas yang berisi es kelapa muda itu beradu argumen dengan batu yang bercampur dengan pasir pantai.
Bayu menoleh ke arah suara yang telah berhasil membangunkan lamunannya, lalu dia menemukan senyum termanis yang dilontarkan Fiona untuknya.
Fiona mendekati Bayu, dan berkata "Jika bahagia yang kamu cari, kamu perlu tahu. Sudahkah kamu mencintai dirimu sendiri, sebelum melabuhkan hati? Jadilah pribadi yang baik sahabatku, karena itulah cerminan kekasih yang akan mendampingimu kelak. Mungkin kamu perlu waktu lama untuk menjadi pandai. tapi untuk menjadi orang baik, kamu hanya butuh kepastian, bukan waktu!"
Seakan terhipnotis oleh kata-kata yang terlontar dari mulut Fiona, Bayu merenungkan kata-kata itu benar dan tersenyum haru ketika menyadari bahwa Fiona telah meninggalkan tempat itu bersama Leon 10 menit yang lalu.
"Biarkan waktu yang akan memperbaiki segalanya" ucap Bayu sambil menghela napas.
Oke klise mungkin, tapi itulah yang saat ini bisa ku lakukan, membiarkan hati ini terobati dengan sendirinya. Dan membuka hati ini untuk siapa pun yang ingin singgah di dalamnya.
Jangan katakan aku single yang patah hati parah. Tapi, kalau ditanya apakah aku merindukan sosok perempuan yang jujur dan tulus mencintaiku? Dengan terpaksa, kujawab. Iya tepat sekali..!!!